Resiko Sistem Live-Shoot dalam Drama Korea!

Drama Midas

“Saya syuting sepanjang malam sampai jam 6 pagi ini dan pulang ke rumah hanya untuk mandi. Kami harus menyelesaikan semua syuting adegan malam hari malam ini dan besok untuk episode yang disiarkan besok.”

Pernyataan tersebut dikeluarkan langsung oleh peran utama: Yeom Jung-ah, memerankan pahlawan chaebol (pewaris generasi konglomerat-red) dari drama MBC ‘Royal Family’. Drama ini dijalankan dengan sistem live-shoot yaitu syuting drama secara real time, dari minggu ke minggu (kalau di Indonesia istilahnya kejar tayang kali ya…). Dia bukan satu-satunya; aktor lain mengekspresikan kekhawatiran tentang seberapa lama mereka bisa bertahan dengan syuting yang sangat melelahkan.

Drama pesaing dari ‘Royal Family’, yaitu drama SBS ’49 Days’, mempunyai kesamaan setelah premier drama; salah satu sumber mengatakan, “Drama kami mempunyai kemungkinan menjadi drama real-time, live-shoot drama dari luar.

Drama Royal Family

Penjelasan singkat tentang sistem live-shoot:

Mini seri dan drama spesial produksi biasanya memulai satu atau dua bulan sebelum ditayangkan, meskipun ada beberapa yang memulai syuting beberapa bulan sebelumnya (alasan: special effect, lokasi syuting, pertimbangan produksi seperti adegan pertempuran). Di sini yang dijelaskan diluar dari drama harian, serial dengan episode yang banyak, dan sitkom karena drama jenis tersebut mempunyai jadwal yang berbeda.

Hal ini menyebabkan drama mempunyai beberapa episode sebelum benar-benar ditayangkan tetapi permintaan produksi bisa meningkat dengan cepat setelah itu dan segera syuting episode drama dilakukan pada minggu ketika episode ditayangkan. Dua episode tiap minggu artinya setiap episode mempunyai beberapa hari untuk syuting dan mengedit film, tanpa banyaknya waktu tersisa untuk syuting ulang adegan yang tidak memuaskan. Kurang tidur itu sudah pasti, dan ada kemungkinan terdapatnya kesalahan.

Jadi, mengapa orang-orang tetap melakukan produksi drama dengan kondisi yang sangat sibuk seperti ini? Masochism dan persiapan yang kurang bukanlah kata yang tepat untuk menjelaskan hal ini.

Hal ini terkait dengan rating, dimana akan memberikan hasil yang seimbang. Drama yang kurang menarik minat pemirsa dapat secara cepat diperbaiki, dimana diharapkan akan memberikan hasil yang lebih baik. (Meskipun fans drama tahu dari pengalaman bahwa hal ini justru menghasilkan plot cerita ataupun sikap karakter yang aneh: Daemul mengganti penulis naskah dan kehilangan sutradara; My Fair Lady membingungkan dan mengalami krisis identitas; Mary Stayed Out All Night mengganti penulis naskah dan ceritanya makin aneh).

Tapi di sisi lain, ada beberapa kasus dimana hal ini memberikan kesuksesan. Bahkan drama yang sukses juga ingin mengejar kesuksesan yang lebih; produser dapat melihat respon positif dari fans drama tersebut dan memberikan fanservice untuk memberikan lebih banyak ketertarikan dari pemirsa setia (Sungkyunkwan Scandal, Secret Garden, dan Boys Before Flowers merupakan beberapa contohnya)

Drama Boys Before Flowers

Meskipun begitu, hal ini menyebabkan setidaknya aktor mengalami jam sibuk yang sangat gila dan kekurangan waktu istirahat. Aktor yang tumbang sudah biasa. Masih ingat kasus kecelakaan yang mengganggu jadwal Boys Before Flowers? Jadwal yang padat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi. Ditambah dengan aktor yang lelah, membuat kesalahan, dimana dapat menyebabkan masalah pada proses syuting.

Baru-baru ini, aktor Lee Soon-jae mempunyai beberapa kata untuk menjelaskan tentang keseluruhan sistem untuk produksi drama. Veteran dari banyak drama (seperti My Princess, Daemul, Wish Upon a Star, Beethoven Virus, dan serial High Kick) juga lebih dari 100 film mengatakan, “selama drama akhir pekan MBC ‘Flames of Desire, naskah diberikan satu minggu sebelumnya jadi hanya ada sedikit ruang untuk bernapas, tetapi naskah My Princess berantakan. Kami harus memperbaikinya. Produksi My Princess dilakukan secara live-shoot yang menjelaskan alur yang bergelombang menuju episode akhir, dimana kami berubah drastis.

Lee menambahkan, “Tidak lama sebelumnya, drama bahkan mengalami insiden penyiaran,” kemungkinan merujuk pada episode akhir Sign. “Negara mana yang membuat drama seperti ini? Dia bertanya. “Dengan kondisi seperti ini, aktor tidak akan mau tampil di drama lagi. Atau mungkin, mereka mau setelah diberi gaji yang besar, dengan kisaran per episode 20 juta won.”

Kemungkinan untuk memperbaiki hal ini, menurut Lee Soon-jae adalah stasiun penyiaran, yang bertanggung jawab untuk kondisi seperti ini, membuat ketentuan kontrak dengan perusahaan produksi luar yang menyatakan naskah harus dirilis sepuluh hari sebelum syuting. Ini merupakan ide yang bagus meskipun bisa dibilang hal tersebut adalah hal yang hampir tidak mungkin terjadi.

Drama Paradise Ranch

Masalah ini bisa menjadi semakin kompleks jika kamu melihat berbagai faktor yang terlibat dalam pembuatan drama menuju kondisi seperti ini–ini tidaklah sesederhana mengatakan, “Baik, mari kita syuting secepatnya kalau begitu.” Ada fakta yang meningkat, dimana serial drama diproduksi oleh perusahaan produksi luar kemudian dijual ke stasiun penyiaran, daripada dilakukan oleh orang produksi stasiun penyiaran seperti yang biasanya terjadi. Dengan stasiun penyiaran selangkah dihilangkan dari proses pembuatan drama, sepertinya uang akan mengapung ke permukaan ketika terjadi penekanan penyelesain—setiap orang menginginkan segalanya diselesaikan dengan cepat dan menekan biaya serendah mungkin.

Dengan mempertimbangkan kasus drama yang telah diproduksi sebelum disiarkan, yaitu drama yang syutingnya beberapa bulan sebelumnya, maka akan memberikan waktu untuk mengedit dan mempoles drama, dan memberikan episode perdana yang memuaskan. Ini adalah pilihan untuk aktor yang ingin mendapatkan waktu tidur yang cukup dan juga untuk kru yang membutuhkan waktu lebih dari sehari di ruangan pengeditan drama. Seringkali dipuji untuk nilai produksi yang tinggi, tetapi sayangnya drama tersebut tidak dapat mengambil hati pemirsa. (Contoh: Road No. 1, Paradise Ranch, Friend Our Legend, I Love You, Terroir.)

Jika pemirsa tidak merespon baik terhadap drama yang sudah diproduksi beberapa bulan sebelum ditayangkan seperti ini, maka tidak ada cara untuk membuat pemirsa tertarik terhadap drama ini sehingga tim produksi hanya akan membuang projek mahal ini. Dan perusahaan produksi mempunyai keuntungan yang lebih kecil dibandingkan perusahaan penyiaran, sehingga satu drama produksi yang gagal akan menjadi pukulan besar, berpengaruh terhadap masa depan perusahaan produksi.

Drama yang gagal ternyata masih lebih baik dibandingkan kasus drama yang bahkan tidak dapat ditayangkan sama sekali. Jika drama tersebut tidak dapat ditayangkan, maka tim produksi tidak dapat menutup biaya produksi.

Drama 49 Days

Selain itu, jika drama tidak mendapat tanggal penayangan, maka akan terdapat kesulitan untuk menarik aktor untuk berada dalam projek tersebut, seperti dijelaskan oleh kepala departemen drama MBC. “Ini akan menjadi kesulitan untuk kami mengalah terhadap jadwal yang telah ditetapkan (untuk iklan, syuting di saat terakhir) sementara kami menganggap bahwa aktor tidak mengetahui kapan drama tersebut akan ditayangkan [sebelum tanda tangan kontrak].”

Yeom Jung-ah yang bermain dalam drama Royal Family mencoba mengikuti skenario ini, tetapi ternyata sulit: “Transformasi kepribadian karakterku cukup ekstrim, jadi ada banyak pekerjaan yang harus aku lakukan tetapi naskah drama datang terlambat sehingga aku tidak punya banyak waktu untuk mempelajari karakter tersebut.”

Drama Midas juga akhirnya mengikuti skenario drama live-shoot dan drama ini bahkan memiliki banyak masalah dalam mengatur perkembangan cerita. Banyak pemirsa yang mengkritik perkembangan drama ini (seperti pembatalan pertunangan antara Jang Hyu dan Lee Min Jung) yang tidak masuk akal.

Semua skenario syuting diatas memberikan hasil yang…di satu sisi cukup rumit, bahkan mungkin merupakan sistem yang kacau. Di sisi lain kita bayangkan seperti apa malapetaka yang harus terjadi dalam industri drama untuk memberikan perhatian yang serius untuk memperbaiki masalah ini.

Via DongA, Sports Khan
Post by: Javabeans @Dramabeans
Credit + Trans Indo: sashalicia
Re-share: gomawoyo.wordpress.com
Pos ini dipublikasikan di Dunia Hiburan Korea dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Resiko Sistem Live-Shoot dalam Drama Korea!

  1. adeline berkata:

    asal jangan sampe karena rating, ada tambahan episod (kayak sinetron2 indonesia).. yang malah bikin ceritanya ga karuan..

    oya, dukung saya ya..semoga saya bisa ke negara Korea.. saya lagi ikut lomba My Korea Winter Story dr KTO Indonesia..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s